PRESS RELEASE
Jumat, 27
Juni 2014
PENEMUAN SPESIES BARU
TIKUS AIR DI SULAWESI
Kerjasama penelitian
antara ilmuan Australia, Indonesia, dan Amerika serta penduduk lokal Kabupaten
Mamasa, Sulawesi Barat telah menemukan spesies baru tikus air karnivora. Spesies ini
sebelumnya hanya diketahui oleh orang-orang
lokal di dataran tinggi barat
Pulau Sulawesi, dan telah digunakan sebagai jimat oleh penduduk setempat untuk
melindungi rumah mereka dari
kebakaran.
Penemuan spesies baru yang diberi nama Waiomys mamasae terpublikasikan dalam
jurnal Zootaxa 3815(4)2014. Spesies
ini merupakan tikus air yang pertama ditemukan di Sulawesi dan kawasan Asia
Tenggara. Tikus semi akuatik lainnya dikenal dari New Guinea, Australia,
Afrika, dan Amerika Selatan. Seperti halnya tikus semi-akuatik lainnya, spesies
ini memakan serangga air yang menempel di dasar aliran.
Penulis utama Dr. Kevin Rowe, Senior Kurator Mamalia
dari Museum Victoria mengatakan bahwa keanekaragaman hayati kepulauan
Indo-Australia menginspirasi lahirnya teori seleksi alam. Penemuan ini menambah
kekuatan lingkungan untuk membentuk keanekaragaman hayati.
Para ilmuwan menggunakan urutan
DNA untuk menunjukkan bahwa
spesies baru ini bukan kerabat
dekat dari spesies tikus air lainnya, termasuk
dari New Guinea
dan Australia. Hal
ini menunjukkan bahwa morfologi tikus
air Sulawesi dengan spesies tikus air lainnya merupakan hasil dari evolusi
konvergen - yang berarti bahwa
hewan ini mengalami
evolusi ciri yang mirip sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan.
“Tikus air Sulawesi
dan tikus air dari New Guinea tidak memiliki hubungan yang erat satu sama lain,
begitu pula dengan tikus rumah dan tikus laboratorium. Tetapi mereka hidup di
lingkungan yang sama yang dapat menjelaskan morfologi konvergen mereka”, kata
Esselstyn Kurator Mamalia di
Louisiana State University dan co-penulis penelitian.
"Penemuan ini secara
signifikan memperluas pemahaman kita tentang keanekaragaman mamalia di Indonesia dan menyoroti
kebutuhan untuk inventarisasi keanekaragaman hayati,"
menurut Anang Achmadi, peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense-LIPI dan co-penulis penelitian.
"Waiomys mamasae ini penting bukan hanya karena spesies baru,
tetapi disebabkan karena bentuk ekologi
yang baru bagi mamalia Sulawesi." jelas Dr Rowe.
Masyarakat mengetahui hewan ini sebagai "balau
wai," atau tikus
air dalam bahasa mereka, Mamasa Toraja. Nama
ilmiah, "Waiomys
mamasae" yang berarti "tikus
air Mamasa," mengakui pengetahuan mereka sebelumnya serta kontribusi mereka terhadap penemuan ilmiah spesies ini.
"Hutan di Mamasa merupakan hutan
yang paling utuh
di Sulawesi. Kondisi hutan yang baik adalah bukti
orang-orang Mamasa sangat membatasi
pembukaan hutan ke dasar gunung. "Kata Achmadi.
Pulau Sulawesi, terletak di persimpangan kepulauan Indo-Australia dan tetap terisolasi dari landas kontinen Asia dan Australia selama 10 juta tahun terakhir. "Sejarah Sulawesi menjelaskan bahwa pulau adalah rumah bagi banyak hewan aneh," menurut Jacob Esselstyn, Kurator Mamalia di Louisiana State University dan co-penulis penelitian. (Sri Wulan)
Pulau Sulawesi, terletak di persimpangan kepulauan Indo-Australia dan tetap terisolasi dari landas kontinen Asia dan Australia selama 10 juta tahun terakhir. "Sejarah Sulawesi menjelaskan bahwa pulau adalah rumah bagi banyak hewan aneh," menurut Jacob Esselstyn, Kurator Mamalia di Louisiana State University dan co-penulis penelitian. (Sri Wulan)
Untuk informasi
lebih lanjut hubungi:
1.
Anang S. Achmadi
(Peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI),
HP:
e-mail:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar