Rabu, 1 Juni 2016
SRI WULAN, S.Ikom.
1. Buka https://www.elsevier.com/solutions/scopus/content
2. Klik Scopus Source List
3. Tampilan setelah klik Scopus Source List
4. Save file -> OK
5. Halaman Excel terbuka
6. Dekatkan kursor ke panah kanan, sampai di Menu Source Type, hilangkan centang pada Select All, kemudian klik pada kotak kecil pilih Journal, lalu klik OK.
7. Geser kursor ke kanan sampai menemukan menu Publisher's Country.
8. Hilangkan centang pada Select All, kemudian centang kotak kecil pilih Indonesia, lalu klik OK.
9. Tampilan hasilnya sebagai berikut, termasuk jurnal yang masih aktif dan tidak aktif.
10. Geser kursor mulai dari arah kiri ke kanan, maka akan ditampilkan nama jurnal, ISSN print dan ISSN online, status active/inactive, prestasi selama tiga
tahun (2012-2014), open access status, dst.
11. Jurnal Indonesia yang terindeks Scopus sebanyak 23 Jurnal (20 Jurnal masih aktif, 3 jurnal tidak aktif)
12. Silakan dicoba untuk pencarian jurnal dari negara lain, tahapan seperti diatas.
SEMOGA BERMANFAAT
Berbagi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Perpustakaan
Serba-serbi ilmu komunikasi, dan ilmu perpustakaan
Total Tayangan Halaman
Selasa, 31 Mei 2016
Jumat, 20 Mei 2016
Keragaman Jenis Burung di Indonesia Tahun 2014
INFOGRAFIS by SRI WULAN, S.Ikom.
18 MEI 2016
Analisa Data:
Data diambil dari Buku Kekinian Keanekaragaman Hayati di Indonesia tahun 2014. Data sampel yang digunakan adalah data jumlah jenis burung di dunia dan di Indonesia; Jenis burung yang dilindungi dan jenis burung endemik; serta Status keterancaman burung Indonesia.
Sumber Infografik: Widjaja, E.A. et al. 2015. Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014. Jakarta, LIPI Press, 344 hlm
18 MEI 2016
Analisa Data:
Data diambil dari Buku Kekinian Keanekaragaman Hayati di Indonesia tahun 2014. Data sampel yang digunakan adalah data jumlah jenis burung di dunia dan di Indonesia; Jenis burung yang dilindungi dan jenis burung endemik; serta Status keterancaman burung Indonesia.
Sumber Infografik: Widjaja, E.A. et al. 2015. Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014. Jakarta, LIPI Press, 344 hlm
Senin, 16 Mei 2016
Selasa, 26 April 2016
MEMERIKSA SIARAN PERS SEBELUM DIKIRIM KE MEDIA
Rabu, 27 April 2016
by Sri Wulan, S.Ikom.
Sudah
siap mau mengirim siaran pers?....tunggu dulu! Jangan dulu tekan “kirim”.
Siaran
pers sangat berguna ketika kita ingin berbagi cerita mengenai disiplin ilmu
yang kita geluti. Bila ada suatu informasi terbaru yang ingin kita sampaikan
kepada publik, sebaiknya kita tulis dalam siaran pers dengan format yang
sesuai. Siaran pers yang baik harus enak dibaca dan mudah untuk dicerna.
Ada
beberapa hal yang harus dilakukan dan diperiksa kembali oleh seorang Public Relation pada saat menulis siaran
pers yang akan dikirim ke media, diantaranya:
1. Judul
Judul yang sudah Anda
buat upayakan dibaca kembali apakah sudah pantas. Buatlah judul yang bombastis,
menarik, dan faktual agar publik tertarik untuk membaca siaran pers tersebut
lebih lanjut. Namun tentunya judul harus mencerminkan isi sebuah berita.
2. Nama
Seorang wartawan harus
hati-hati dalam penulisan nama seseorang. Usahakan untuk selalu mendapatkan
nama yang benar dan jelas. Bukan saja dalam hal penulisan nama tetapi penting
pula apabila seorang penulis siaran pers memastikan dengan benar
pengutipan-pengutipan nama sumber. Jangan membuat pembaca kebingungan pada saat
membaca siaran pers. Nama seseorang sangat sakral karena menyangkut hak
individu seseorang. Untuk itu pastikan penulis siaran pers mengetik nama yang
benar.
3. Link
Memasukan tautan dalam
siaran pers merupakan strategi yang sangat bagus untuk mengarahkan pembaca
menuju situs Web Anda, sehingga akan meningkatkan peringkat mesin pencari Anda.
Jangan sampai Anda salah mengetikkan sebuah tautan karena jika salah Anda tidak
akan menikmati hasil karya Anda. Untuk itu sebelum mengirimkan siaran pers
pastikan tautan yang Anda ketik berfungsi dengan baik dan diarahkan pada
halaman yang tepat. Jangan lupa memberikan tautan yang relevan untuk gambar,
visi misi lembaga pada website Anda.
4. Informasi Kontak
Pada bagian paling
akhir sebuah siaran pers tercantum mengenai informasi kontak. Periksa dan
verifikasi kembali informasi kontak yang Anda cantumkan agar wartawan dapat
menghubungi untuk menindaklanjuti tulisan siaran pers Anda. Pastikan untuk menyertakan
beberapa informasi tambahan misalnya tentang lembaga Anda.
5. Fakta dan Angka
Baca kembali siaran
pers yang Anda buat, pastikan informasi yang Anda sampaikan semuanya benar. Data
angka yang Anda informasikan juga memang benar, sehingga semua pernyataan dapat
dibuktikan. Apabila Anda salah dalam menuliskan informasi pada siaran pers,
tentunya akan “membunuh” kredibilitas Anda sebagai seorang Public Relation.
6. Ejaan dan Tata Bahasa
Hal terakhir yaitu,
penulisan ejaan dan tata bahasa. Periksa dan baca kembali tulisan tersebut
apakah ada kesalahan dalam ejaan dan pengetikan atau tata bahasanya kurang
baik. Tidak ada yang mengharapkan kita menjadi penulis yang baik, namun tentunya
kita berusaha untuk menulis semaksimal mungkin agar tidak menjadikan kita
pribadi yang terbelakang.
Pemeringkatan Literasi Internasional
PEMERINGKATAN LITERASI INTERNASIONAL
Untuk memperingati HARI BUKU SEDUNIA tgl 23 April lalu, Sebuah studi yang dilakukan oleh John W. Miller, presiden Central Connecticut State University di New Britain, Conn pada bulan Maret lalu dalam Most Literate Nations in the World merilis pemeringkatan literasi internasional dan perilaku melek di seluruh dunia. INDONESIA berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Artinya kita berada di RANKING KEDUA DARI BAWAH. Satu peringkat lebih baik dibanding Botswana yang ada di peringkat paling bawah. Sungguh memprihatinkan sekali.
Pemeringkatan ini didasarkan pada lima kategori sebagai indikator, yaitu: perpustakaan, surat kabar, pendidikan formal, pendidikan luar sekolah, dan ketersediaan komputer.
Literasi, dan khususnya perilaku melek huruf, digunakan sebagai lensa yang akan digunakan untuk melihat perkembangan ekonomi negara, kesetaraan gender, pemanfaatan sumber daya, dan diskriminasi etnis.
Finlandia menduduki peringkat atas. Finlandia does a lot things well. Finlandia memprioritaskan kualitas hidup daripada kekayaan.
Sumber: https://www.washingtonpost.com/news/answer-sheet/wp/2016/03/08/most-literate-nation-in-the-world-not-the-u-s-new-ranking-says/
Kamis, 14 April 2016
Formappi Kritik Rencana Pembangunan Perpustakaan DPR
Ilustrasi Gedung DPR, (SINDOphoto).
JAKARTA - Rencana DPR membangun
perpustakaan menggunakan anggaran gedung baru, dinilai perlu dibuka ke
publik. Pasalnya, selama ini terjadi ketidakjelasan dalam perencanaan
pembangunan perpustakaan tersebut.
Peneliti pada Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengatakan, ketidakjelasan itu terjadi saat pembangunan perpustakaan menjadi bagian dari pembangunan gedung baru DPR.
Padahal dalam rancangan awal Tim Implementasi Reformasi DPR, perpustakaan merupakan proyek sendiri yang terpisah dari bangunan gedung baru DPR.
"Penting untuk memastikan apakah proyek perpustakaan ini yang dianggarkan dalam APBN 2016 atau pembangunan perpustakaan ini mengambil jatah anggaran untuk proyek gedung baru?" kata Lucius kepada Sindonews, Senin (28/3/2016).
"Dengan munculnya rencana beragam dari DPR memanfaatkan anggaran Rp570 miliar, maka mutlak bagi DPR untuk membuka rancangan design kompleks DPR yang disiapkan," imbuhnya.
Selain masalah anggaran, urgensi pembangunan perpustakaan juga patut dipertanyakan. Lucius menilai, rencana pembangunan perpustakaan tak bisa didukung argumentasi yang jelas.
Lucius bahkan menganggap lucu bahwa yang tersirat pertama kali adalah kebanggaan semu jika DPR mempunyai perpustakaan terbesar se-Asia. Baginya, kebutuhan perpustakaan tentu akan didukung jika perpustakaan yang ada saat ini sudah tidak bisa menampung anggota DPR yang datang membaca.
Menurutnya, hal itu juga akan didukung jika perpustakaan sudah menjadi rujukan atau referensi bagi DPR dalam menambah wawasan. Yang terjadi saat ini, DPR jarang sekali mendatangi perpustakaan.
Bukan karena perpustakaannya tak memadai, tetapi karena mental malas membaca yang bisa jadi memasukkan seluruh anggota DPR. "Ini kesannya hanya gagah-gagahan penampilan fisik semata. Apa coba relevansinya keberadaan perpustakaan dengan membanggakan ukurannya?" ungkap Lucius.
"Jadi ini mencari-cari alasan saja untuk menghabiskan anggaran yang sudah ada. Siapa tahu perpustakaan dibangun, pundi-pundi segelintir anggota juga ikut penuh?" sindir Lucius.
Peneliti pada Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengatakan, ketidakjelasan itu terjadi saat pembangunan perpustakaan menjadi bagian dari pembangunan gedung baru DPR.
Padahal dalam rancangan awal Tim Implementasi Reformasi DPR, perpustakaan merupakan proyek sendiri yang terpisah dari bangunan gedung baru DPR.
"Penting untuk memastikan apakah proyek perpustakaan ini yang dianggarkan dalam APBN 2016 atau pembangunan perpustakaan ini mengambil jatah anggaran untuk proyek gedung baru?" kata Lucius kepada Sindonews, Senin (28/3/2016).
"Dengan munculnya rencana beragam dari DPR memanfaatkan anggaran Rp570 miliar, maka mutlak bagi DPR untuk membuka rancangan design kompleks DPR yang disiapkan," imbuhnya.
Selain masalah anggaran, urgensi pembangunan perpustakaan juga patut dipertanyakan. Lucius menilai, rencana pembangunan perpustakaan tak bisa didukung argumentasi yang jelas.
Lucius bahkan menganggap lucu bahwa yang tersirat pertama kali adalah kebanggaan semu jika DPR mempunyai perpustakaan terbesar se-Asia. Baginya, kebutuhan perpustakaan tentu akan didukung jika perpustakaan yang ada saat ini sudah tidak bisa menampung anggota DPR yang datang membaca.
Menurutnya, hal itu juga akan didukung jika perpustakaan sudah menjadi rujukan atau referensi bagi DPR dalam menambah wawasan. Yang terjadi saat ini, DPR jarang sekali mendatangi perpustakaan.
Bukan karena perpustakaannya tak memadai, tetapi karena mental malas membaca yang bisa jadi memasukkan seluruh anggota DPR. "Ini kesannya hanya gagah-gagahan penampilan fisik semata. Apa coba relevansinya keberadaan perpustakaan dengan membanggakan ukurannya?" ungkap Lucius.
"Jadi ini mencari-cari alasan saja untuk menghabiskan anggaran yang sudah ada. Siapa tahu perpustakaan dibangun, pundi-pundi segelintir anggota juga ikut penuh?" sindir Lucius.
(maf)
Sumber: http://nasional.sindonews.com/read/1096450/12/formappi-kritik-rencana-pembangunan-perpustakaan-dpr-1459189252
Fahri Hamzah: Perpustakaan DPR Mirip Perpustakaan RT
Senin, 28 Maret 2016 | 16:32 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan pembangunan perpustakaan DPR bukan hal yang mengada-ada. Proyek ini sudah disetujui dalam rapat paripurna. "Rencana besar yang sudah disetujui di rapat paripurna dan masyarakat juga sudah tahu," ujar Fahri di kompleks DPR Senayan, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016.
Menurut Fahri, pembangunan perpustakaan baru yang dirancang megah dan terbesar di Asia Tenggara ini penting karena merupakan bagian dari sistem pendukung bagi anggota DPR. "Gedung parlemen itu harus ada data kelengkapanya, harus ada perpustakaannya," ucap Fahri.
Fahri mengingat, kondisi perpustakaan lama sudah tidak layak. Koleksi buku-bukunya terikat dan dibiarkan menumpuk di lantai. Walau berada di kompleks DPR, tempatnya terpencil sehingga susah diakses. "Perpustakaan yang lama ada, tapi mirip perpustakaan ketua RT, jadi kami ingin perpustakaan parlemen itu konsepnya perpustakaan nasional," ujarnya.
Proyek perpustakaan, yang menjadi bagian dari tujuh proyek DPR, memicu pro dan kontra di lingkungan parlemen, juga di masyarakat. Ada yang menganggap perpustakaan mewah belum dibutuhkan. Namun ada yang berpendapat sangat dibutuhkan.
Fahri berujar, para cendekiawan yang datang ke DPR belum lama ini mendukung penuh rencana tersebut. "Ini semua positif, bukan untuk kepentingan orang per orang, tapi untuk bangsa Indonesia," ucap Fahri.
Mengenai anggaran, politikus Partai Keadilan Sejahtera ini mengatakan bukan masalah besar. Sebab, anggaran itu akan dibahas dengan pemerintah. "Itu urusan pemerintah dan badan anggaran. Sudah saatnya Indonesia punya sistem pendukung parlemen yang baik. Salah satunya perpustakaan."
Dana proyek perpustakaan ini sudah termasuk di anggaran proyek-proyek DPR senilai Rp 570 miliar. Sumbernya dari APBN 2016. Sedangkan lokasi perpustakaan akan satu gedung dengan ruang kerja anggota DPR.
Dukungan cendekiawan yang dimaksud Fahri adalah akademikus dan budayawan dari Freedom Institute. Mereka datang menemui pemimpin DPR pada Selasa, 22 Maret 2016. Mereka adalah Rizal Mallarangeng, Ignas Kleden, Ulil Abshar Abdalla, dan Ayu Utami.
Hadir pula aktivis sosial budaya, Nong Darol Mahmuda; pegiat budaya Nirwan Arsuka; serta dosen Universitas Paramadina, Lutfhi Assyaukanie. Mereka diterima Ketua DPR Ade Komarudin dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.
Anggota DPR dari Fraksi Nasdem, Jhonny G. Plate, mengatakan pembangunan perpustakaan sebaiknya ditunda. Alasannya kondisi keuangan negara belum memadai. Dana yang dialokasikan dialihkan untuk proyek infrastruktur yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Lagipula, menurut Jhonny, saat ini perpustakaan buku secara fisik mulai ditinggalkan publik. Tren model perpustakaan sekarang berupa buku elektronik. Maka, konsep perpustakaan yang diajukan perlu ditinjau ulang. "Menyesuaikan perkembangan teknologi informasi," ujarnya. Jhonny menilai, saat ini kompleks DPR lebih membutuhkan jaringan Internet yang kuat agar anggota bisa mengakses data lebih cepat dan mudah.
Sumber: https://m.tempo.co/read/news/2016/03/28/078757467/fahri-hamzah-perpustakaan-dpr-mirip-perpustakaan-rt
Fahri Hamzah. TEMPO/Tony Hartawa
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan pembangunan perpustakaan DPR bukan hal yang mengada-ada. Proyek ini sudah disetujui dalam rapat paripurna. "Rencana besar yang sudah disetujui di rapat paripurna dan masyarakat juga sudah tahu," ujar Fahri di kompleks DPR Senayan, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016.
Menurut Fahri, pembangunan perpustakaan baru yang dirancang megah dan terbesar di Asia Tenggara ini penting karena merupakan bagian dari sistem pendukung bagi anggota DPR. "Gedung parlemen itu harus ada data kelengkapanya, harus ada perpustakaannya," ucap Fahri.
Fahri mengingat, kondisi perpustakaan lama sudah tidak layak. Koleksi buku-bukunya terikat dan dibiarkan menumpuk di lantai. Walau berada di kompleks DPR, tempatnya terpencil sehingga susah diakses. "Perpustakaan yang lama ada, tapi mirip perpustakaan ketua RT, jadi kami ingin perpustakaan parlemen itu konsepnya perpustakaan nasional," ujarnya.
Proyek perpustakaan, yang menjadi bagian dari tujuh proyek DPR, memicu pro dan kontra di lingkungan parlemen, juga di masyarakat. Ada yang menganggap perpustakaan mewah belum dibutuhkan. Namun ada yang berpendapat sangat dibutuhkan.
Fahri berujar, para cendekiawan yang datang ke DPR belum lama ini mendukung penuh rencana tersebut. "Ini semua positif, bukan untuk kepentingan orang per orang, tapi untuk bangsa Indonesia," ucap Fahri.
Mengenai anggaran, politikus Partai Keadilan Sejahtera ini mengatakan bukan masalah besar. Sebab, anggaran itu akan dibahas dengan pemerintah. "Itu urusan pemerintah dan badan anggaran. Sudah saatnya Indonesia punya sistem pendukung parlemen yang baik. Salah satunya perpustakaan."
Dana proyek perpustakaan ini sudah termasuk di anggaran proyek-proyek DPR senilai Rp 570 miliar. Sumbernya dari APBN 2016. Sedangkan lokasi perpustakaan akan satu gedung dengan ruang kerja anggota DPR.
Dukungan cendekiawan yang dimaksud Fahri adalah akademikus dan budayawan dari Freedom Institute. Mereka datang menemui pemimpin DPR pada Selasa, 22 Maret 2016. Mereka adalah Rizal Mallarangeng, Ignas Kleden, Ulil Abshar Abdalla, dan Ayu Utami.
Hadir pula aktivis sosial budaya, Nong Darol Mahmuda; pegiat budaya Nirwan Arsuka; serta dosen Universitas Paramadina, Lutfhi Assyaukanie. Mereka diterima Ketua DPR Ade Komarudin dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.
Anggota DPR dari Fraksi Nasdem, Jhonny G. Plate, mengatakan pembangunan perpustakaan sebaiknya ditunda. Alasannya kondisi keuangan negara belum memadai. Dana yang dialokasikan dialihkan untuk proyek infrastruktur yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Lagipula, menurut Jhonny, saat ini perpustakaan buku secara fisik mulai ditinggalkan publik. Tren model perpustakaan sekarang berupa buku elektronik. Maka, konsep perpustakaan yang diajukan perlu ditinjau ulang. "Menyesuaikan perkembangan teknologi informasi," ujarnya. Jhonny menilai, saat ini kompleks DPR lebih membutuhkan jaringan Internet yang kuat agar anggota bisa mengakses data lebih cepat dan mudah.
Sumber: https://m.tempo.co/read/news/2016/03/28/078757467/fahri-hamzah-perpustakaan-dpr-mirip-perpustakaan-rt
Langganan:
Postingan (Atom)












