Total Tayangan Halaman

Jumat, 17 Oktober 2014

PENEMUAN SPESIES BARU TIKUS AIR DI SULAWESI



PRESS RELEASE
Jumat, 27 Juni 2014

PENEMUAN SPESIES BARU TIKUS AIR DI SULAWESI

Kerjasama penelitian antara ilmuan Australia, Indonesia, dan Amerika serta penduduk lokal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat telah menemukan spesies baru tikus air karnivora. Spesies ini sebelumnya hanya diketahui oleh orang-orang lokal di dataran tinggi barat Pulau Sulawesi, dan telah digunakan sebagai jimat oleh penduduk setempat untuk melindungi rumah mereka dari kebakaran.

Penemuan spesies baru yang diberi nama Waiomys mamasae terpublikasikan dalam jurnal Zootaxa 3815(4)2014. Spesies ini merupakan tikus air yang pertama ditemukan di Sulawesi dan kawasan Asia Tenggara. Tikus semi akuatik lainnya dikenal dari New Guinea, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan. Seperti halnya tikus semi-akuatik lainnya, spesies ini memakan serangga air yang menempel di dasar aliran.

Penulis utama Dr. Kevin Rowe, Senior Kurator Mamalia dari Museum Victoria mengatakan bahwa keanekaragaman hayati kepulauan Indo-Australia menginspirasi lahirnya teori seleksi alam. Penemuan ini menambah kekuatan lingkungan untuk membentuk keanekaragaman hayati.

Para ilmuwan menggunakan urutan DNA untuk menunjukkan bahwa spesies baru ini bukan kerabat dekat dari spesies tikus air lainnya, termasuk dari New Guinea dan Australia. Hal ini menunjukkan bahwa morfologi  tikus air Sulawesi dengan spesies tikus air lainnya merupakan hasil dari evolusi konvergen - yang berarti bahwa hewan ini mengalami evolusi ciri yang mirip sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan.

“Tikus air Sulawesi dan tikus air dari New Guinea tidak memiliki hubungan yang erat satu sama lain, begitu pula dengan tikus rumah dan tikus laboratorium. Tetapi mereka hidup di lingkungan yang sama yang dapat menjelaskan morfologi konvergen mereka”, kata Esselstyn Kurator Mamalia di Louisiana State University dan co-penulis penelitian.

"Penemuan ini secara signifikan memperluas pemahaman kita tentang keanekaragaman mamalia di Indonesia dan menyoroti kebutuhan untuk inventarisasi keanekaragaman hayati," menurut Anang Achmadi, peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense-LIPI dan co-penulis penelitian.
"Waiomys mamasae ini penting bukan hanya karena spesies baru, tetapi disebabkan karena bentuk ekologi yang baru bagi mamalia Sulawesi." jelas Dr Rowe.

Masyarakat mengetahui hewan ini sebagai "balau wai," atau tikus air dalam bahasa mereka, Mamasa Toraja. Nama ilmiah, "Waiomys mamasae" yang berarti "tikus air Mamasa," mengakui pengetahuan mereka sebelumnya serta kontribusi mereka terhadap penemuan ilmiah spesies ini.

"Hutan di Mamasa merupakan hutan yang paling utuh di Sulawesi. Kondisi hutan yang baik adalah bukti orang-orang Mamasa sangat membatasi pembukaan hutan ke dasar gunung. "Kata Achmadi.

Pulau Sulawesi, terletak di persimpangan
kepulauan Indo-Australia dan tetap terisolasi dari landas kontinen Asia dan Australia selama 10 juta tahun terakhir. "Sejarah Sulawesi menjelaskan bahwa pulau adalah rumah bagi banyak hewan aneh," menurut Jacob Esselstyn, Kurator Mamalia di Louisiana State University dan co-penulis penelitian. (Sri Wulan)

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
1.      Anang S. Achmadi (Peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI),
      HP:
      e-mail:

PENELITI LIPI TEMUKAN TIGA KATAK JENIS BARU



PRESS RELEASE
Selasa, 8 April 2014

PENELITI LIPI TEMUKAN TIGA KATAK JENIS BARU

Dua orang peneliti herpetofauna LIPI kembali menemukan tiga katak jenis baru dalam kurun waktu triwulan pertama 2014. Penemuan ketiga katak jenis baru tersebut dilaporkan oleh peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian (P2) Biologi-LIPI yaitu Awal Riyanto dan Hellen Kurniati. Ketiga katak jenis baru yang diberi nama Chiromantis trilaksonoi, Chiromantis baladika, dan Chiromantis nauli, terpublikasikan dalam satu artikel ilmiah pada jurnal Russian Journal of Herpetology volume 21(1) 2014.

Jenis pertama yaitu Chiromantis trilaksonoi, yang didedikasikan untuk Wahyu Trilaksono, seorang teknisi laboratorium herpetologi P2 Biologi yang cukup berbakat. Sekaligus pula penghargaan kepada Wahyu karena telah mendapatkan spesimen tersebut di sekitar rumahnya pertengahan April 2011. Wahyu lebih suka namanya diabadikan sebagai nama jenis daripada diikutsertakan dalam penulisan artikel. Katak berukuran 24,5 – 26 mm memiliki tubuh bagian punggung berwarna cokelat terang dengan variasi garis tak jelas berwarna cokelat gelap membujur, bagian perut putih semi transparan, di atas rahang terdapat garis putih dari segaris tengah mata hingga tengkuk dan selaput terdapat diantara jari ketiga dan keempat tangan.

Jenis kedua adalah Chiromantis nauli, diberi nama sesuai dengan lokasi ditemukannya yaitu Teluk Nauli, Sibolga, Sumatera Utara. Jenis ini berwarna cokelat kekuningan polos, pada sisi perut berwarna putih kekuningan dan tidak mempunyai selaput di sela jari tangan.

Terakhir jenis ketiga adalah Chiromantis baladika, nama jenis ini diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti prajurit pembela bangsa. Jenis ini dikoleksi dari kolam non permanen pada area kebun sawit di Sumatera Barat. Memiliki punggung berwarna cokelat dengan bercak cokelat gelap kekuningan, sisi perut putih, pada paha terdapat pola tiga buah pita gelap melintang dan terdapat garis kuning dari ujung moncong melewati dorsolateral hingga sela paha.

Sekilas gambaran marga Chiromantis yang merupakan kelompok Katak pohon (Rhacophoridae), umumnya berukuran kecil, bersifat arboreal, hidup di habitat yang terganggu hingga hutan primer, bersifat nocturnal dan aktif bernyanyi seusai turun hujan. Ciri khas dari marga ini terletak pada dua jari tangan bagian dalam dan dua jari tangan bagian luar bias ditekuk sehingga dapat saling berhadapan.

Berdasarkan akses bulan Maret pada Amphibian Species of the World versi online (http://research.amnh.org/herpetology/amphibia) jumlah jenis dari marga ini sebanyak 15 jenis. Sehingga dengan bertambahnya ketiga jenis baru ini, setidaknya di dunia telah memiliki 18 jenis marga Chiromantis. (Sri Wulan)


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
  1. Awal Riyanto (Peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI), HP. 081524529464, e-mail: awal_herp.yahoo.com; awal_lizards.yahoo.com
  2. Hellen Kurniati (Peneliti bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI), HP. 081318092591, e-mail: hkurniati.yahoo.com
  3. Humas Puslit Biologi-LIPI

Kamis, 09 Oktober 2014

KONTRIBUSI MUSEUM ZOOLOGI BOGOR DALAM TEMUAN SPESIES BARU 2010-2014



Indonesia sebagai negara mega-biodiversity ketiga di dunia memiliki berbagai tipe ekosistem yang menyediakan habitat bagi berbagai spesies fauna. Keberadaan beberapa spesies di Indonesia masih memerlukan upaya untuk dieksplorasi dan digali lebih mendalam mengingat belum sepenuhnya potensi tersebut diungkap dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

         Hasil kegiatan penelitian yang dilakukan Museum Zoologi Bogor bekerjasama dengan berbagai pihak baik dari dalam maupun luar negeri telah berhasil mengungkap beberapa spesies fauna yang belum dikenal sebelumnya. Spesies-spesies tersebut akhirnya dikenalkan melalui jurnal-jurnal ilmiah sebagai spesies baru yang semakin menambah khasanah keanekaragaman hayati dunia khususnya Indonesia.


         Selama tahun 2010-2014, peneliti fauna di Puslit Biologi-LIPI berhasil menemukan 106 spesies fauna baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kiprah peneliti fauna memberikan sumbangan yang penting bagi ilmu pengetahuan khususnya keanekaragaman hayati dari berbagai taksa seperti ikan, mamalia, burung, serangga hingga fauna mikroskopik seperti nematode dan acari.

 



Jumlah spesies baru terbanyak disumbang oleh kelompok ikan sebanyak 33 spesies (31%) disusul oleh kelompok nematoda  sebanyak 14 spesies (13%)), kelompok insekta, mamalia dan acarina masing-masing sebanyak 10 spesies (9%), kelompok katak dan reptilia masing-masing delapan spesies (8%), kelompok arachnida sebanyak tujuh spesies (7%), kelompok krustase tiga spesies (3%), serta kelompok burung dua spesies (2%) dan moluska sebanyak satu spesies (1%) (Gambar 1.)