Total Tayangan Halaman

Jumat, 06 November 2015

Ekspedisi Enggano 2015 Temukan Belasan Kandidat Spesies Baru

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan belasan kandidat spesies baru dan catatan baru dalam Ekspedisi Enggano 2015. Dalam ekspedisi ini, tim peneliti LIPI berhasil mengoleksi dan mendata informasi kekayaan dan potensi hayati yang terbilang masif di Pulau Enggano, Bengkulu.

Ekspedisi yang berlangsung pada 16 April – 5 Mei 2015 tak hanya mensurvei keanekaragaman flora dan fauna. Dalam Ekspedisi Enggano peneliti LIPI juga mendata beragam jenis tanaman maupun hewan yang selama ini belum terungkap.

Pulau Enggano terpilih sebagai destinasi ekspedisi karena merupakan pulau samudera (Oceanic Island), yang tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera sepanjang sejarah geologinya. Pulau seluas 402,6 km2 ini terletak di Samudera Hindia sekitar 100 km sebelah barat pulau Sumatera. Pulau Enggano memiliki garis pantai panjang 106,7 km dan titik tertingginya (Bukit Koho Buwabuwa) hanya sekitar 281 mdpl.



Selengkapnya: http://technology-indonesia.com/component/content/article/892-ekspedisi-enggano-2015-temukan-belasan-kandidat-spesies-baru

Ekspedisi Enggano, LIPI Temukan Kandidat Spesies Baru

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap kandidat jenis dan catatan baru flora dan fauna dalam ekspedisi Enggano yang dilakukan 16 April-5 Mei 2015 lalu.

Pulau Enggano dipilih untuk diteliti karena pulau ini merupakan pulau samudera yang tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera sepanjang sejarah geologinya.

Enggano merupakan bagian wilayah administrasi Provinsi Bengkulu. Namun untuk sampai ke Enggano di tempuh selama 12 jam dengan kapal penyebrangan dari Bengkulu.

Ketua Tim Ekspedisi Enggano LIPI Amir Hamidy mengatakan sesungguhnya kajian tentang Enggano dalam bidang hayati sudah dilakukan setahun terakhir. Sebanyak 50 peneliti terlibat dalam penelitian ini.






Selengkapnya:http://www.beritasatu.com/kesra/320035-ekspedisi-enggano-lipi-temukan-kandidat-spesies-baru.html

Ekspedisi Enggano 2015, LIPI Temukan Belasan Kandidat Spesies Baru

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Ekspedisi Enggano 2015, menemukan belasan kandidat spesies baru dan catatan baru.

Ketua Tim Ekspedisi Enggano LIPI, Dr Amir Hamidy mengatakan, tim melakukan survei keanekaragaman flora dan fauna serta mendata beragam jenis tanaman maupun hewan yang selama ini belum terungkap sekaligus pemanfaatannya.

“Indikasi untuk pemanfaataan skala labaratorium, identifikasi potensi yang bisa dikembangkan, pertama untuk obat, antioksidan dan antibiotik,” jelasnya di Jakarta, Kamis (5/11/2015).






Selengkapnya: http://rri.co.id/post/berita/216238/teknologi/ekspedisi_enggano_2015_lipi_temukan_belasan_kandidat_spesies_baru.html

LIPI Temukan 20 Spesies Baru di Enggano

Pulau-pulau terluar Indonesia masih menyimpan banyak kekayaan alam yang belum terungkap. Salah satunya adalah Pulau Enggano, yang terletak 100 kilo meter di sisi barat Pulau Sumatera.


“Kami menemukan banyak spesies yang tak pernah terlihat sebelumnya,” kata Amir Hamidy, Ketua Tim Peneliti Ekspedisi Enggano Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta pada Kamis, 5 Oktober 2015. Total angka yang sudah dipastikan merupakan spesies baru ada sebanyak 20 spesies, sementara yang lain masih berada dalam tahap verifikasi sampel lebih lanjut.






Selengkapnya: http://tekno.tempo.co/read/news/2015/11/05/095716230/lipi-temukan-20-spesies-baru-di-enggano

Hilang Puluhan tahun, LIPI Temukan Kembali Spesies Ular Ini

Tim Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendapat kejutan saat meneliti flora dan fauna di Pulau Enggano, Bengkulu, Sumatera. Seekor ular yang lama tak ditemukan selama 80 tahun, berhasil mereka dapatkan di salah satu hutan yang mereka teliti.

“Saya tak menyangka, ular ini ada di belakang saya saat tengah meneliti di pinggiran hutan,” kata ketua tim peneliti Amir Hamidy di Jakarta pada Kamis, 5 November 2015. Sejauh ini, baru satu individu ular Coelognatus enggano ini yang berhasil ia temukan.






Selengkapnya: http://tekno.tempo.co/read/news/2015/11/06/095716382/hilang-puluhan-tahun-lipi-temukan-kembali-spesies-ular-ini

Peneliti: Ditemukan 14 Spesies Baru di Enggano

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meyakini telah menemukan sedikitnya 14 spesies flora dan fauna baru dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015 di Pulau Enggano, Bengkulu.

Ketua Tim Ekspedisi Enggano LIPI Amir Hamidy usai memberikan keterangan pers di Media Center LIPI, Jakarta, Kamis (6/11), mengatakan beberapa kandidat sudah sangat diyanini merupakan spesies flora dan fauna baru.

Selengkapnya: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/11/06/nxd0bs284-peneliti-ditemukan-14-spesies-baru-di-enggano

Ular Langka Ini Ditemukan Lagi di Bengkulu Setelah 80 Tahun Menghilang

Ular tikus Enggano, nama spesies ular tersebut sebenarnya adalah Coelognathus enganensis. Ular pemakan tikus tersebut merupakan salah satu jenis yang paling jarang dijumpai di dunia.

C enganensis kali pertama ditemukan pada tahun 1872 oleh peneliti Italia, Elio Modigliani. Olehnya, ular itu dinobatkan sebagai spesies baru.

Tahun 1986, peneliti Belanda bernama De Jong menemukan kembali ular tersebut untuk kali kedua. Dia mengoleksinya. Spesimen kini disimpan di Museum Zoologi, Bogor.





Selengkapnya: http://trend.co.id/ular-langka-ini-ditemukan-lagi-di-bengkulu-setelah-80-tahun-menghilang/

Ular Paling Sulit Dijumpai Ditemukan Lagi Setelah 80 Tahun "Hilang"

Setelah 80 tahun "hilang", ular langka kembali ditemukan di Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Peneliti herpetologi Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, menemukannya saat melakukan ekspedisi penelitian ke Pulau Enggano pada 16 April - 5 Mei 2015 lalu.

Menurut Amir, dirinya menemukan ular tersebut tidak sengaja. Kala itu, ketika berada di pinggir hutan sewaktu malam, tiba-tiba ular tersebut mendekat.





Selengkapnya: http://jateng.tribunnews.com/2015/11/05/ular-paling-sulit-dijumpai-ditemukan-lagi-setelah-80-tahun-hilang

Belasan Spesies Baru Ditemukan pada Ekspedisi Enggano 2015

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Ekspedisi Enggano telah melaksanakan eksplorasi Pulau Enggano, di Provinsi Bengkulu, pada 16 April - 5 Mei 2015. Dari ekspedisi ini, tim peneliti menemukan belasan kandidat spesies baru dan catatan baru.

Tak hanya itu, survei keanekaragaman flora dan fauna juga mendata beragam jenis tanaman maupun hewan yang selama ini belum terungkap sekaligus pula pemanfaatannya.

Pemilihan Pulau Enggano sebagai destinasi ekspedisi tim peneliti LIPI karena pulau ini merupakan pulau samudera (Oceanic Island), yang tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera sepanjang sejarah geologinya. Pulau Enggano merupakan pulau yang terletak di Samudera Hindia sekitar 100 km sebelah barat pulau Sumatera, memiliki luas sekitar 402,6 km2 dengan garis pantai panjang 106,7 km dan titik tertingginya (Bukit Koho Buwabuwa) hanya sekitar 281 mdpl.

Selengkapnya: http://www.gatra.com/iltek/sains/172732-belasan-spesies-baru-ditemukan-pada-ekspedisi-enggano-2015

80 Tahun "Hilang", Ular Langka dari Enggano Ditemukan Lagi

Setelah 80 tahun "hilang", ular langka kembali ditemukan di Enggano, Bengkulu. Peneliti herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, menemukannya saat melakukan ekspedisi penelitian ke Pulau Enggano pada 16 April-5 Mei 2015 lalu.



Selengkapnya: http://sains.kompas.com/read/2015/11/05/17553941/80.Tahun.Hilang.Ular.Langka.dari.Enggano.Ditemukan.Lagi

Sejumlah Spesies Baru Ditemukan dalam Ekspedisi LIPI di Pulau Enggano

Tim peneliti Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) melakukan Ekspedisi Enggano pada 16 April-5 Mei 2015 silam. Ada sejumlah temuan menarik dari ekspedisi ini.

Hasil ekspedisi ini disampaikan kepada publik dan media dengan tema "LIPI Ungkap Hasil Eksplorasi Bioresources di Pulau Enggano" di Sasana Widya Sarwono, Kamis (5/11/2015).

Selengkapnya: http://news.detik.com/berita/3063265/sejumlah-spesies-baru-ditemukan-dalam-ekspedisi-lipi-di-pulau-enggano

Ekspedisi Enggano 2015 Temukan Sejumlah Kandidat Spesies Baru

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan sejumlah kandidat spesies baru (new species) dan catatan baru (new records) dalam Ekspedisi Enggano 2015. Eksplorasi di pulau yang berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu itu telah berlangsung 16 April s.d. 5 Mei 2015.

Selengkapnya: http://www.pikiran-rakyat.com/horison/2015/11/05/348801/ekspedisi-enggano-2015-temukan-sejumlah-kandidat-spesies-baru 

"Diasingkan" dari Sumatera, Kini Pulau Ini Memberi Kejutan bagi Indonesia

"Diasingkan" dari Sumatera oleh proses geologi, Pulau Enggano yang terletak di Provinsi Bengkulu kini memberi kejutan bagi Indonesia. Ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap flora serta fauna khas dan belum dikenal sebelumnya.






Selengkapnya: http://sains.kompas.com/read/2015/11/05/21565561/.Diasingkan.dari.Sumatera.Kini.Pulau.Ini.Memberi.Kejutan.bagi.Indonesia

Selasa, 28 Juli 2015

Ngengat “si Kupu-Kupu Malam”




Judul                  : Moths of Gunung Halimun-Salak National Park (Part 2: Drepanoidea and Geometroidea)
Pengarang          : Hari Sutrisno, Darmawan, Wardi Septiana, Atih Sundawiati, dan Momo Suparmo
Penerbit           : LIPI Press
Tahun              : 2015
Kolasi              : xxi, 198 hal.: ilus.; 21 cm.
UDC                 :  595.78

Mendengar istilah kupu-kupu malam, janganlah dulu beranggapan negatif. Tahukah pembaca, bahwa biologi juga sebenarnya mengenal kupu-kupu malam. Kupu-kupu malam dalam istilah biologi adalah nama lain dari ngengat (rama-rama), serangga yang memiliki kekerabatan dekat dengan kupu-kupu. Secara sederhana, ngengat dibedakan dari kupu-kupu berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal).

Serangga ngengat atau kupu-kupu malam selalu dianggap musuh oleh para petani karena banyak hama ulat yang berasal dari kelompok ini. Namun, sesungguhnya ngengat mempunyai peranan yang sangat penting di dalam ekosistem. Disamping itu juga dapat menjaga keseimbangan dan kesehatan hutan, baik sebagai penyerbuk (dewasanya) maupun pengendali pertumbuhan vegetatif (larvanya). Ngengat juga merupakan sumber energi berbagai binatang, seperti burung, ikan, kelelawar, dan serangga lain.

Buku ini merupakan hasil kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan lingkungannya. Dalam buku ini, dijelaskan tentang superfamili Drepanoidea yang terdiri dari dua famili, yaitu Epicopeiidae dan Drepanidae. Sedangkan superfamili Geometroidea memiliki tiga famili, yaitu Sematuridae, Geometridae, dan Uranidae. Buku ini menyajikan informasi mengenai ngengat atau kupu-kupu malam meliputi 23 jenis Drepanoidea dan 123 jenis Geometroidea. Buku ini merupakan terbitan yang kedua setelah buku pertama mengenai kupu-kupu malam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan superfamili Thyridoidea dan Pyraloidea, yang diterbitkan oleh LIPI press tahun 2012.

Super famili Drepanoidea merupakan superfamili yang jumlahnya relatif kecil. Berdasarkan kajian di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tercatat hanya sekitar 17 jenis Drepanidae dari total ngengat yang ada di TNGHS. Kawasan Kendeng memiliki jumlah yang paling tinggi yaitu 13 jenis, dan di kawasan Citiis hanya terdapat satu jenis.

Sementara itu dari tiga famili anggota superfamili Geometroidea, famili Geometridae merupakan famili yang paling umum dan paling banyak ditemukan di kawasan TNGHS. Tercatat ada sekitar 191 jenis dari total ngengat yang terdapat di TNGHS. Berdasarkan hasil kajian selama tiga tahun, dapat diinformasikan bahwa keberadaan famili Geometridae di kawasan Gunung Kendeng adalah yang paling tinggi, yaitu mencapai 90 jenis, sedangkan Gunung Botol dan Cidahu memiliki jumlah yang relatif lebih rendah, berkisar antara 53-55 jenis. Jika dilihat dari jumlah jenis, maka Gunung Kendeng memiliki jumlah jenis paling tinggi. Hal ini dikarenakan keanekaragaman tanaman inang di kawasan ini lebih beragam dibandingkan kedua kawasan lain, karena Gunung Kendeng terletak di tengah-tengah Taman Nasional dengan kondisi hutan relatif lebih terjaga.

Buku ini terdiri dari lima bab, dimana bab pertama membahas mengenai latar belakang penulisan buku; bab kedua membahas mengenai morfologi ngengat dengan tujuan agar pembaca dapat memahami karakter dalam mengidentifikasi maupun mendeskripsikan ngengat. Morfologi yang disajikan dalam buku ini hanya dibatasi untuk ngengat dewasa. Bab ketiga menjelaskan tentang panduan kunci identifikasi ngengat; Bab keempat membahas mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Drepanoidea yang terdiri dari family Epicopeiidae dan Drepanidae. Selanjutnya pada bab kelima dijelaskan pula mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Geometroidea yang terdiri dari famili Uraniidae dan Geometridae, sementara famili Sematuridae tidak dijelaskan pada bab ini.

Buku ini sangat baik dan penting digunakan tidak hanya bagi petugas konservasi, tetapi juga penting untuk peneliti, mahasiswa, dan pengunjung taman nasional. Untuk memudahkan para pembaca mengenal lebih dekat ragam jenisnya, buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto specimen dan lokasi tempat ditemukannya di kawasan TNGHS. Penulis juga menjelaskan padanan kata yang digunakan dalam penulisan buku ini. Arti dari istilah-istilah yang digunakan disajikan dalam daftar terpisah yaitu glosarium. Indeks dari beberapa kata kunci juga disajikan dalam daftar terpisah.

Secara fisik buku ini sangat bagus, namun sedikit masukan untuk penulis. Judul yang tercantum pada halaman depan menjadi kekurangan karena pembaca akan mengira buku tersebut dalam bahasa Inggris. Untuk itu akan lebih baik dibuat buku dalam bahasa Inggris atau dalam dua bahasa untuk lebih menjangkau berbagai kalangan. Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak dimiliki oleh petugas konservasi, peneliti, serta mahasiswa yang berminat mempelajari ngengat atau kupu-kupu malam. 

Kamis, 11 Juni 2015

Keanekaragaman Hayati Indonesia Perlu Diinventarisasi

http://sp.beritasatu.com/home/keanekaragaman-hayati-indonesia-perlu-diinventarisasi/54130

Banyak Maling, Penelitian Keanekaragaman Hayati Perlu Moratorium

http://sp.beritasatu.com/home/banyak-maling-penelitian-keanekaragaman-hayati-perlu-moratorium/67501

Ekspedisi Enggano, 'Bertarung' dengan Perusakan Alam Hayati

http://sp.beritasatu.com/home/ekspedisi-enggano-bertarung-dengan-perusakan-alam-hayati/85229

Keanekaragaman Hayati Sumber Pangan, Industri dan Obat

http://sp.beritasatu.com/home/keanekaragaman-hayati-sumber-pangan-industri-dan-obat/88121

Keanekaragaman Hayati Indonesia Banyak yang Belum Terungkap

http://sp.beritasatu.com/home/keanekaragaman-hayati-indonesia-banyak-yang-belum-terungkap/88096

Daftar Jurnal Ilmiah Akreditasi LIPI

http://www.globalsciencebooks.info/JournalsSup/images/2013/AAJPSB_7%28SI1%29pp46-56Appendix%202.pdf

Resmikan InaCC, LIPI kerjasama dengan Jepang Dalam penelitian Mikroba

http://www.wispendia.com/2014/09/resmikan-inacc-lipi-kerjasama-dengan.html

Peneliti LIPI Temukan Spesies Katak dari Marga Chiromantis

http://manado.tribunnews.com/2014/04/26/peneliti-lipi-temukan-spesies-katak-dari-marga-chiromantis

Rekomendasi Bulan Minim Hujan di Raja Ampat

http://psta.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2015/82/Rekomendasi-Bulan-Minim-Hujan-di-Raja-Ampat/berita-sains

Pengadaan Alat Laboratorium InaCC Pusat Penelitian Biologi LIPI

http://pengadaan.net/eproc/289313/1/pengadaan-alat-laboratorium-inacc-pusat-penelitian-biologi-lipi.html

BERITA RESMI PVT Pendaftaran Varietas Hasil Pemuliaan No. Publikasi : 043/BR/PVHP/02/2014

 Pisang Mas Jambe (Musa acuminata Colla)
Pemilik Varietas: Pusat Penelitian Biologi - LIPI

http://ppvt.setjen.pertanian.go.id/ppvtpp/tinymcpuk/gambar/File/43.%20LIPI-Pisang%20Mas%20Jambe-LIPI%20MJ4.pdf

Rabu, 08 April 2015

I am Social Librarian


This is exactly how I view my role.........

The social librarian acts as an educator, filter and beacon, and empowers partners as curators, creators and consumers. Librarians and library users, information, and the library itself are all online, digital and virtual, and each has a social element. This has a major impact on the librarian's many roles and the skills they must continually update and acquire.


See more at: http://libraryconnect.elsevier.com/articles/supporting-users-organizations/2013-08/i-am-social-librarian-infographic-free-download#sthash.61MYAGrr.dpuf