Total Tayangan Halaman

Jumat, 11 Maret 2016

Wow! Hewan Ini Alami Perubahan Saat Gerhana Matahari

Sejumlah Satwa Tunjukan Perilaku Abnormal Saat Gerhana Matahari Total

Dari hasil pengamatan, saat Gerhana Matahari Total (GMT) beberapa satwa menunjukkan perilaku abnormal seperti terkena tipuan malam.

Fenomena luar angkasa Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi pada Rabu (9/3) ternyata membawa pengaruh pada perilaku satwa. Hal ini terlihat dari pengamatan yang dilakukan peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di penangkaran hewan Cibinong Science Center(CSC), Cibinong, Jawa Barat.
 
Dari hasil pengamatan, beberapa satwa menunjukkan perilaku abnormal seperti terkena tipuan malam. “Satwa-satwa yang kami amati di antaranya kelompok mamalia kecil, kelompok burung paruh bengkok, serta binatang melata atau herpetofauna,” ujar Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI.
 
Menurut Hari, penelitian ini didasari oleh penelitian sebelumnya yang pernah ada bahwa GMT mempengaruhi perilaku satwa. “Ini merupakan momen sangat langka, yang sebelumnya di Indonesia terjadi pada tahun 1983,” imbuh Hari. Dirinya menjelaskan, secara umum respon satwa-satwa memang menunjukkan perilaku seolah-olah sudah senja atau malam. “Kemungkinan besar bagi wilayah yang mengalami penurunan intensitas cahaya secara signifikan akan menunjukkan hasil yang lebih positif,” jelas Hari.
 
Untuk kelompok mamalia, kukang dianggap memberikan respon paling positif. “Hewan nokturnal yang aktif di malam hari ini tadinya pada pukul 05.00 WIB sebelum ada cahaya matahari masih aktif, kemudian mulai tidur saat matahari terbit. Namun beberapa menit saat GMT, intensitas cahaya berkurang dan kukang bangun lagi dan melakukan aktivitas,” jelas Wartika Rosa Farida dari Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Begitu juga dengan babi. Pada saat matahari terbit, babi bergerak dan melakukan aktivitas seperti makan. “Namun pada saat GMT, aktivitas babi mulai menurun dan mereka mulai tidur seakan-akan sudah mulai malam,” imbuh Rosa.  
 
Selain kukang dan babi, tim mamalia juga mengamati beberapa hewan lainnya seperti landak raya, landak jawa, landak sumatera, jelarang (bajing besar), bajing tiga warna dan oposum layang. “Namun satwa-satwa ini tidak terlalu terpengaruh dan tidak mengalami perubahan perilaku yang signifikan,” tutur Rosa. Sehingga, timnya berasumsi bahwa hewan nokturnal cenderung memberikan respon yang lebih besar terhadap perubahan intensitas cahaya sehingga berperilaku abnormal.
 
Sementara itu, tim peneliti kelompok burung mengamati beberapa jenis seperti nuri bayan, kakaktua govini, betet jawa, dan nuri kepala hitam. “Burung yang menunjukkan respon paling signifikan adalah betet jawa. Pada saat cahaya redup, mereka langsung tidur seperti aktivitas menjelang pagi atau menjelang senja,” jelas Rini Rahmatika, peneliti burung Pusat Penelitian Biologi LIPI. Kakaktua juga menunjukkan respon yang hampir sama. “Sejenak mereka berkoloni dan mengurangi aktivitas,” sambung Rini.
 
Berbeda dengan kelompok mamalia dan burung, kelompok hewan melata diduga tidak terpengaruh sama sekali oleh GMT. Beberapa hewan yang diamati yaitu kura-kura brazil, kura-kura ambon, kura-kura sulawesi, kura-kura papua, biawak, phyton timor, serta viper hijau. “Untuk kelompok reptil, mereka biasanya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Namun karena tidak ada perubahan respon yang signifikan selama GMT, kami asumsikan reptil tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan cahaya karena perubahan cahaya yang terjadi juga tidak terlalu tinggi,” jelas Evy Arida, peneliti herpetofauna Pusat Penelitian Biologi LIPI.
 
Respon Satwa Lore Lindu
Selain di tiga penangkaran di Cibinong, LIPI juga menurunkan tim penelitian di Taman Nasional Lore Lindu dan Kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sebagai salah satu titik GMT. “Burung maleo betina yang sebelum GMT agak gelisah dan riuh, pada saat GMT mulai diam,” tutur Sigit Wiantoro, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang turut serta di Lore Lindu saat dihubungi via telepon. Sementara itu untuk burung maleo jantan, saat GMT kembali tidur seperti pola aktivitas malam hari, imbuhnya.
 
Sebagai informasi, pengamatan perilaku satwa ini berlangsung pada pukul 05.00-09.00 WIB dengan perubahan suhu 1 derajat pada saat terjadi gerhana dari 25 derajat celsius ke 24 derajat celsius dan kelembaban udara yang naik sekitar 10 persen dari 80 persen menjadi 91 persen
(Sumber: Humas LIPI)

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/03/sejumlah-satwa-tunjukan-perilaku-abnormal-saat-gerhana-matahari-total

 

Gerhana Matahari Total, LIPI Teliti Perilaku Hewan Penelitian dilakukan 7-9 Maret 2016 pada dua titik di Sulawesi Tengah



VIVA.co.id – Saat fenomena alam Gerhana Matahari Total (GMT) perilaku hewan sudah banyak diyakini akan mengalami perubahan. Saat totalitas matahari itu, ada pertukaran aktivitas dan perilaku antara hewan yang aktif di siang hari (diurnal) dan hewan yang aktif di malam hari (nokturnal).

Untuk membuktikannya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi menurunkan tim peneliti untuk mengamati respons satwa saat GMT. Penelitian tersebut dilaksanakan selama pra dan usai GMT mulai 7-9 Maret 2016.

“Penelitian ini dilaksanakan dengan asumsi bahwa satwa merespons perubahan lingkungan akibat gerhana,” ujar Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI, dalan siaran pers yang diterima VIVA.co.id, Senin 7 Maret 2016.

Sementara itu, pengamatan terkait respons satwa itu akan dilakukan di salah satu titik GMT yaitu Taman Nasional Lore Lindu dan Kawasan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Durasi gerhana akan berlangsung selama 2 jam 32 menit, mulai Gerhana Matahari Sebagian (GMS) pada 07.27 WITA, akhir GMS (10.00 WITA); kemudian mulai Gerhana Matahari Total (08.37 WITA) dilanjutkan puncak GMT (08.38 WITA), dan sampai akhir GMT (08.39 WITA).

Alasan LIPI memilih lokasi tersebut sebagai ‘target’ dikarenakan, di kawasan Lore Lindu terdapat berbagai jenis satwa, termasuk satwa endemik Sulawesi yang menarik untuk diamati. Satwa itu antara lain mamalia dan burung. Selain itu, kondisi hutan yang masih bagus merupakan habitat berbagai macam serangga, amfibi dan reptil. Lokasi lain yang akan diamati adalah Parigi Moutong yang memiliki koloni kalong. (ren)


Sumber: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/744780-gerhana-matahari-total-lipi-teliti-perilaku-hewan-teknologi

Kamis, 10 Maret 2016

Gerhana Matahari Total Pengaruhi Aktivitas Hewan

GUGUM RACHMAT GUMILAR/PRLM
Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI memaparkan sejumlah rekaman video hasil penelitian di Kompleks Puslit Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (9/3/2016). Dari penelitian tersebut diketahui bahwa beberapa jenis satwa ikut terpengaruh gerhana matahari total yang terjadi pagi tadi.*

CIBINONG, (PRLM).-Gerhana matahari total yang terjadi pada Rabu (9/3/2016) pagi tidak hanya dinikmati umat manusia. Beberapa jenis satwa ternyata ikut terpengaruh oleh fenomena langka tersebut. Hal ini merupakan hasil penelitian Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor.

Dari penelitian tersebut terungkap bahwa beberapa hewan yang terpengaruh oleh GMT antara lain babi, beberapa jenis unggas dan sejumlah serangga.

Hari Sutrisno, Kepala Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI memaparkan, saat matahari muncul sekitar pukul 06.00, babi memulai aktivitas seperti biasanya. Namun, ketika cahaya matahari berkurang karena tertutup bulan, babi perlahan mengambil posisi rebah untuk kembali tidur.

Pengaruh GMT juga dirasakan oleh serangga jenis tonggeret. Mengira GMT adalah malam hari yang sudah tiba, tonggeret langsung bersahutan mengeluarkan suara. "Begitu juga dengan kumbang kotoran, serangga yang mendorong-dorong kotoran sampai berbentuk bola itu, langsung masuk ke lubang karena menyangka sudah malam. Katak sawah dan kodok buduk juga langsung berlindung," kata Hari dalam pemaparan di Kompleks Puslit Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu siang.

Dalam penelitian ini, Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI mengerahkan sejumlah peneliti mereka. Selain di penangkaran hewan Kompleks Puslit Biologi LIPI Cibinong, beberapa peneliti dikirim ke Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah.

Penelitian rata-rata dilakukan sejak terbit matahari, saat gerhana, dan setelah gerhana. Hal itu untuk mengungkap tingkah laku hewan objek penelitian sebelum, saat, dan setelah gerhana. Beberapa satwa diteliti secara langsung, sejumlah hewan lain diteliti menggunakan kamera video. (Gugum Rachmat Gumilar/A-43)*

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2016/03/09/363716/gerhana-matahari-total-pengaruhi-aktivitas-hewan

Penelitian LIPI Tunjukkan Prilaku Satwa Abnormal Saat GMT

Bayangan penuh bulan selama gerhana matahari total 9 Maret, 2016, seperti yang terlihat dari pesawat terbang di atas Samudera Pasifik Utara. Pemburu gerhana naik pesawat khusus dari Anchorage ke Honolulu untuk melihat gerhana dari udara. (Dan McGlaun/gerhana 2017.org melalui AP)

CIBINONG – Penelitian yang dillakukan oleh Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di penangkaran hewan Cibinong Science Center (CSC), Cibinong, Jawa Barat saat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 menunjukkan adanya perilaku satwa yang abnormal. Namun demikian, tak semua hewan menunjukkan perilaku yang sama.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Sutrisno, mengatakan sejumlah satwa yang menunjukkan perilaku berbeda memperkirakan suasana saat itu seperti malam hari. Ada pun hewan yang diamati adalah kelompok mamalia kecil, kelompok burung paruh bengkok, serta binatang melata atau herpetofauna.

Dia memperkirakan daerah yang mengalami gerhana total didapati para hewan-hewan itu menunjukkan prilaku sepenuhnya fositif. Faktor yang mempengaruhi prilaku hewan adalah pada saat kemungkinan besar bagi wilayah yang mengalami penurunan intensitas cahaya secara signifikan.
Menurut Wartika Rosa Farida dari Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Pusat Penelitian Biologi LIPI, untuk kelompok mamalia yakni Kukang sebagai hewan nokturnal yang aktif di malam hari ini tadinya pada pukul 05.00 WIB sebelum ada cahaya matahari masih aktif.  Kemudian mulai tidur saat matahari terbit. Namun beberapa menit saat GMT, intensitas cahaya berkurang dan kukang bangun lagi dan melakukan aktivitas.

Hal serupa juga dilakukan terhadap Babi,  saat matahari terbit babi bergerak dan melakukan aktivitas. Namun pada saat GMT, aktivitas babi mulai menurun dan mereka mulai tidur seakan-akan sudah mulai malam. Hasil penelitian justru berbeda saat dilakukan terhadap hewan lainnya seperti landak raya, landak jawa, landak sumatera, jelarang (bajing besar), bajing tiga warna dan oposum layang.
Menurut dia, hewan-hewan nokturnal tersebut justru tak terpengaruh dan tidak mengalami perubahan perilaku yang signifikan. Sementara itu, tim peneliti kelompok burung mengamati beberapa jenis seperti nuri bayan, kakaktua govini, betet jawa, dan nuri kepala hitam menunjukkan respon paling signifikan.

Burung yang menunjukkan perilaku signifikan adalah betet jawa bahkan pada saat cahaya redup, mereka langsung tidur seperti aktivitas menjelang pagi atau menjelang senja. Hasil sama juga terhadap Kakaktua yang sejenak mereka berkoloni dan mengurangi aktivitas.
Sedangkan kelompok hewan melata merespon dengan sikap yang berbeda.  Hewan yang diamati yaitu kura-kura brazil, kura-kura ambon, kura-kura sulawesi, kura-kura papua, biawak, phyton timor, serta viper hijau biasanya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Namun karena tidak ada perubahan respon yang signifikan selama GMT.

“Kami asumsikan reptil tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan cahaya karena perubahan cahaya yang terjadi juga tidak terlalu tinggi,” jelas peneliti herpetofauna Pusat Penelitian Biologi LIPI, Evy Arida. (asr)