Bayangan penuh bulan selama gerhana matahari total 9 Maret, 2016,
seperti yang terlihat dari pesawat terbang di atas Samudera Pasifik
Utara. Pemburu gerhana naik pesawat khusus dari Anchorage ke Honolulu
untuk melihat gerhana dari udara. (Dan McGlaun/gerhana 2017.org melalui
AP)
CIBINONG – Penelitian yang dillakukan
oleh Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
di penangkaran hewan Cibinong Science Center (CSC),
Cibinong, Jawa Barat saat Gerhana Matahari 9 Maret 2016 menunjukkan
adanya perilaku satwa yang abnormal. Namun demikian, tak semua hewan
menunjukkan perilaku yang sama.
Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian
Biologi LIPI, Hari Sutrisno, mengatakan sejumlah satwa yang menunjukkan
perilaku berbeda memperkirakan suasana saat itu seperti malam hari. Ada
pun hewan yang diamati adalah kelompok mamalia kecil, kelompok burung
paruh bengkok, serta binatang melata atau herpetofauna.
Dia memperkirakan daerah yang mengalami
gerhana total didapati para hewan-hewan itu menunjukkan prilaku
sepenuhnya fositif. Faktor yang mempengaruhi prilaku hewan adalah pada
saat kemungkinan besar bagi wilayah yang mengalami penurunan intensitas
cahaya secara signifikan.
Menurut Wartika Rosa Farida dari
Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Pusat Penelitian Biologi
LIPI, untuk kelompok mamalia yakni Kukang sebagai hewan nokturnal yang
aktif di malam hari ini tadinya pada pukul 05.00 WIB sebelum ada cahaya
matahari masih aktif. Kemudian mulai tidur saat matahari terbit. Namun
beberapa menit saat GMT, intensitas cahaya berkurang dan kukang bangun
lagi dan melakukan aktivitas.
Hal serupa juga dilakukan terhadap Babi,
saat matahari terbit babi bergerak dan melakukan aktivitas. Namun pada
saat GMT, aktivitas babi mulai menurun dan mereka mulai tidur
seakan-akan sudah mulai malam. Hasil penelitian justru berbeda saat
dilakukan terhadap hewan lainnya seperti landak raya, landak jawa,
landak sumatera, jelarang (bajing besar), bajing tiga warna dan oposum
layang.
Menurut dia, hewan-hewan nokturnal
tersebut justru tak terpengaruh dan tidak mengalami perubahan perilaku
yang signifikan. Sementara itu, tim peneliti kelompok burung mengamati
beberapa jenis seperti nuri bayan, kakaktua govini, betet jawa, dan nuri
kepala hitam menunjukkan respon paling signifikan.
Burung yang menunjukkan perilaku
signifikan adalah betet jawa bahkan pada saat cahaya redup, mereka
langsung tidur seperti aktivitas menjelang pagi atau menjelang senja.
Hasil sama juga terhadap Kakaktua yang sejenak mereka berkoloni dan
mengurangi aktivitas.
Sedangkan kelompok hewan melata merespon
dengan sikap yang berbeda. Hewan yang diamati yaitu kura-kura brazil,
kura-kura ambon, kura-kura sulawesi, kura-kura papua, biawak, phyton
timor, serta viper hijau biasanya dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
Namun karena tidak ada perubahan respon yang signifikan selama GMT.
“Kami asumsikan reptil tidak terlalu
terpengaruh oleh perubahan cahaya karena perubahan cahaya yang terjadi
juga tidak terlalu tinggi,” jelas peneliti herpetofauna Pusat Penelitian
Biologi LIPI, Evy Arida. (asr)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar