Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Juli 2015

Ngengat “si Kupu-Kupu Malam”




Judul                  : Moths of Gunung Halimun-Salak National Park (Part 2: Drepanoidea and Geometroidea)
Pengarang          : Hari Sutrisno, Darmawan, Wardi Septiana, Atih Sundawiati, dan Momo Suparmo
Penerbit           : LIPI Press
Tahun              : 2015
Kolasi              : xxi, 198 hal.: ilus.; 21 cm.
UDC                 :  595.78

Mendengar istilah kupu-kupu malam, janganlah dulu beranggapan negatif. Tahukah pembaca, bahwa biologi juga sebenarnya mengenal kupu-kupu malam. Kupu-kupu malam dalam istilah biologi adalah nama lain dari ngengat (rama-rama), serangga yang memiliki kekerabatan dekat dengan kupu-kupu. Secara sederhana, ngengat dibedakan dari kupu-kupu berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal).

Serangga ngengat atau kupu-kupu malam selalu dianggap musuh oleh para petani karena banyak hama ulat yang berasal dari kelompok ini. Namun, sesungguhnya ngengat mempunyai peranan yang sangat penting di dalam ekosistem. Disamping itu juga dapat menjaga keseimbangan dan kesehatan hutan, baik sebagai penyerbuk (dewasanya) maupun pengendali pertumbuhan vegetatif (larvanya). Ngengat juga merupakan sumber energi berbagai binatang, seperti burung, ikan, kelelawar, dan serangga lain.

Buku ini merupakan hasil kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan lingkungannya. Dalam buku ini, dijelaskan tentang superfamili Drepanoidea yang terdiri dari dua famili, yaitu Epicopeiidae dan Drepanidae. Sedangkan superfamili Geometroidea memiliki tiga famili, yaitu Sematuridae, Geometridae, dan Uranidae. Buku ini menyajikan informasi mengenai ngengat atau kupu-kupu malam meliputi 23 jenis Drepanoidea dan 123 jenis Geometroidea. Buku ini merupakan terbitan yang kedua setelah buku pertama mengenai kupu-kupu malam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan superfamili Thyridoidea dan Pyraloidea, yang diterbitkan oleh LIPI press tahun 2012.

Super famili Drepanoidea merupakan superfamili yang jumlahnya relatif kecil. Berdasarkan kajian di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tercatat hanya sekitar 17 jenis Drepanidae dari total ngengat yang ada di TNGHS. Kawasan Kendeng memiliki jumlah yang paling tinggi yaitu 13 jenis, dan di kawasan Citiis hanya terdapat satu jenis.

Sementara itu dari tiga famili anggota superfamili Geometroidea, famili Geometridae merupakan famili yang paling umum dan paling banyak ditemukan di kawasan TNGHS. Tercatat ada sekitar 191 jenis dari total ngengat yang terdapat di TNGHS. Berdasarkan hasil kajian selama tiga tahun, dapat diinformasikan bahwa keberadaan famili Geometridae di kawasan Gunung Kendeng adalah yang paling tinggi, yaitu mencapai 90 jenis, sedangkan Gunung Botol dan Cidahu memiliki jumlah yang relatif lebih rendah, berkisar antara 53-55 jenis. Jika dilihat dari jumlah jenis, maka Gunung Kendeng memiliki jumlah jenis paling tinggi. Hal ini dikarenakan keanekaragaman tanaman inang di kawasan ini lebih beragam dibandingkan kedua kawasan lain, karena Gunung Kendeng terletak di tengah-tengah Taman Nasional dengan kondisi hutan relatif lebih terjaga.

Buku ini terdiri dari lima bab, dimana bab pertama membahas mengenai latar belakang penulisan buku; bab kedua membahas mengenai morfologi ngengat dengan tujuan agar pembaca dapat memahami karakter dalam mengidentifikasi maupun mendeskripsikan ngengat. Morfologi yang disajikan dalam buku ini hanya dibatasi untuk ngengat dewasa. Bab ketiga menjelaskan tentang panduan kunci identifikasi ngengat; Bab keempat membahas mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Drepanoidea yang terdiri dari family Epicopeiidae dan Drepanidae. Selanjutnya pada bab kelima dijelaskan pula mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Geometroidea yang terdiri dari famili Uraniidae dan Geometridae, sementara famili Sematuridae tidak dijelaskan pada bab ini.

Buku ini sangat baik dan penting digunakan tidak hanya bagi petugas konservasi, tetapi juga penting untuk peneliti, mahasiswa, dan pengunjung taman nasional. Untuk memudahkan para pembaca mengenal lebih dekat ragam jenisnya, buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto specimen dan lokasi tempat ditemukannya di kawasan TNGHS. Penulis juga menjelaskan padanan kata yang digunakan dalam penulisan buku ini. Arti dari istilah-istilah yang digunakan disajikan dalam daftar terpisah yaitu glosarium. Indeks dari beberapa kata kunci juga disajikan dalam daftar terpisah.

Secara fisik buku ini sangat bagus, namun sedikit masukan untuk penulis. Judul yang tercantum pada halaman depan menjadi kekurangan karena pembaca akan mengira buku tersebut dalam bahasa Inggris. Untuk itu akan lebih baik dibuat buku dalam bahasa Inggris atau dalam dua bahasa untuk lebih menjangkau berbagai kalangan. Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak dimiliki oleh petugas konservasi, peneliti, serta mahasiswa yang berminat mempelajari ngengat atau kupu-kupu malam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar