Judul : Moths of Gunung Halimun-Salak
National Park (Part 2: Drepanoidea and Geometroidea)
Pengarang : Hari Sutrisno, Darmawan, Wardi Septiana,
Atih Sundawiati, dan Momo Suparmo
Penerbit : LIPI Press
Tahun : 2015
Kolasi : xxi, 198 hal.: ilus.; 21 cm.
UDC : 595.78
Mendengar
istilah kupu-kupu malam, janganlah dulu beranggapan negatif. Tahukah pembaca,
bahwa biologi juga sebenarnya mengenal kupu-kupu malam. Kupu-kupu malam dalam istilah
biologi adalah nama lain dari ngengat (rama-rama), serangga yang memiliki kekerabatan
dekat dengan kupu-kupu. Secara sederhana, ngengat dibedakan dari kupu-kupu berdasarkan
waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan
aktif di waktu malam (nocturnal).
Serangga
ngengat atau kupu-kupu malam selalu dianggap musuh oleh para petani karena banyak
hama ulat yang berasal dari kelompok ini. Namun, sesungguhnya ngengat mempunyai
peranan yang sangat penting di dalam ekosistem. Disamping itu juga dapat menjaga
keseimbangan dan kesehatan hutan, baik sebagai penyerbuk (dewasanya) maupun pengendali
pertumbuhan vegetatif (larvanya). Ngengat juga merupakan sumber energi berbagai
binatang, seperti burung, ikan, kelelawar, dan serangga lain.
Buku
ini merupakan hasil kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Balai
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati
Indonesia dan lingkungannya. Dalam buku ini, dijelaskan tentang superfamili Drepanoidea
yang terdiri dari dua famili, yaitu Epicopeiidae dan Drepanidae. Sedangkan superfamili
Geometroidea memiliki tiga famili, yaitu Sematuridae,
Geometridae, dan Uranidae. Buku ini menyajikan informasi mengenai ngengat atau kupu-kupu
malam meliputi 23 jenis Drepanoidea dan 123 jenis Geometroidea. Buku ini merupakan
terbitan yang kedua setelah buku pertama mengenai kupu-kupu malam di Taman
Nasional Gunung Halimun Salak dengan superfamili Thyridoidea dan Pyraloidea,
yang diterbitkan oleh LIPI press tahun 2012.
Super
famili Drepanoidea merupakan superfamili yang jumlahnya relatif kecil. Berdasarkan
kajian di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tercatat hanya sekitar 17 jenis Drepanidae
dari total ngengat yang ada di TNGHS. Kawasan Kendeng memiliki jumlah yang
paling tinggi yaitu 13 jenis, dan di kawasan Citiis hanya terdapat satu jenis.
Sementara
itu dari tiga famili anggota superfamili Geometroidea, famili Geometridae merupakan
famili yang paling umum dan paling banyak ditemukan di kawasan TNGHS. Tercatat ada
sekitar 191 jenis dari total ngengat yang terdapat di TNGHS. Berdasarkan hasil kajian
selama tiga tahun, dapat diinformasikan bahwa keberadaan famili Geometridae di
kawasan Gunung Kendeng adalah yang paling tinggi, yaitu mencapai 90 jenis,
sedangkan Gunung Botol dan Cidahu memiliki jumlah yang relatif lebih rendah,
berkisar antara 53-55 jenis. Jika dilihat dari jumlah jenis, maka Gunung Kendeng
memiliki jumlah jenis paling tinggi. Hal ini dikarenakan keanekaragaman tanaman
inang di kawasan ini lebih beragam dibandingkan kedua kawasan lain, karena Gunung
Kendeng terletak di tengah-tengah Taman Nasional dengan kondisi hutan relatif lebih
terjaga.
Buku
ini terdiri dari lima bab, dimana bab pertama membahas mengenai latar belakang penulisan
buku; bab kedua membahas mengenai morfologi ngengat dengan tujuan agar pembaca dapat
memahami karakter dalam mengidentifikasi maupun mendeskripsikan ngengat.
Morfologi yang disajikan dalam buku ini hanya dibatasi untuk ngengat dewasa. Bab
ketiga menjelaskan tentang panduan kunci identifikasi ngengat; Bab keempat membahas
mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Drepanoidea yang terdiri dari
family Epicopeiidae dan Drepanidae. Selanjutnya pada bab kelima dijelaskan pula
mengenai deskripsi ngengat dari superfamili Geometroidea yang terdiri dari
famili Uraniidae dan Geometridae, sementara famili Sematuridae tidak dijelaskan
pada bab ini.
Buku
ini sangat baik dan penting digunakan tidak hanya bagi petugas konservasi,
tetapi juga penting untuk peneliti, mahasiswa, dan pengunjung taman nasional.
Untuk memudahkan para pembaca mengenal lebih dekat ragam jenisnya, buku ini dilengkapi
pula dengan foto-foto specimen dan lokasi tempat ditemukannya di kawasan TNGHS.
Penulis juga menjelaskan padanan kata yang digunakan dalam penulisan buku ini. Arti
dari istilah-istilah yang digunakan disajikan dalam daftar terpisah yaitu glosarium.
Indeks dari beberapa kata kunci juga disajikan dalam daftar terpisah.
Secara fisik buku ini
sangat bagus, namun sedikit masukan untuk penulis. Judul yang tercantum pada halaman
depan menjadi kekurangan karena pembaca akan mengira buku tersebut dalam bahasa
Inggris. Untuk itu akan lebih baik dibuat buku dalam bahasa Inggris atau dalam dua
bahasa untuk lebih menjangkau berbagai kalangan. Namun, terlepas dari kekurangan
yang ada, buku ini layak dimiliki oleh petugas konservasi, peneliti, serta mahasiswa
yang berminat mempelajari ngengat atau kupu-kupu malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar