"Jadilah Pemburu Berita bukan Penadah Berita"
Sri Wulan, S.Ikom.
Pusat Penelitian Biologi-LIPI
Manusia
sebagai makhluk sosial memiliki dua sifat dasar, yakni pertama, selalu ingin tahu keadaan alam sekitarnya, kedua selalu ingin memberitahukan
keadaan dirinya, terutama pengalamannya yang baru dan sangat berkesan. Mungkin itulah
yang mendasari keinginan manusia untuk menyatu dengan manusia lain yang berada
di sekelilingnya, serta untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
Saling menyampaikan informasi baru merupakan salah satu upaya yang dilakukan
manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya.
Penyampaian
kabar atau berita tersebut dapat dilakukan secara lisan atau tertulis. Untuk
memudahkan penyampaian berita atau informasi secara luas, manusia kemudian
menciptakan media massa cetak dan elektronik. Media cetak antara lain koran,
tabloid, majalah, dan bulletin, sedangkan media elektronik antara lain radio,
televisi, dan internet atau media daring yang dapat diakses kapan saja dan
dimana saja.
Pusat
Penelitian Biologi-LIPI memiliki media cetak atau majalah internal instansi
dengan nama “Warta Kita” serta “TV Berita”. Kedua media tersebut menyajikan
semua informasi kegiatan yang terjadi di lingkungan lembaga diantaranya
kegiatan survey hasil penelitian serta kegiatan internal dan eksternal lembaga.
Penyajian berita yang disampaikan tidak hanya aktual dan akurat, tetapi juga
harus cepat, eksklusif, dan semenarik mungkin untuk dapat menyita perhatian sivitas
lembaga.
Untuk
itu diperlukan suatu keterampilan dan keahlian sebagai “pemburu berita” dalam
mengumpulkan data valid dan menyusunnya menjadi sebuah informasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. Cara penyampaian berita atau informasi melalui media
massa itulah yang disebut jurnalistik. Jurnalistik
adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan
menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah.
Pelajaran
yang bisa diambil untuk redaksi "Warta Kita" dan "TV Berita" adalah jadilah pemburu berita “skeptis”
artinya memiliki sifat
meragukan sesuatu. Tidak mau menerima dengan mudah apa adanya. Selalu meragukan
sesuatu jika belum ada bukti yang benar-benar jelas. Jika ada cerita maka tidak
langsung mempercayainya, Itulah sifat seorang “pemburu berita”,
bukan sebagai “penadah”. Kecenderungan kita sekarang adalah “penadah
berita”. Karena umumnya hanya menerima berita tanpa ingin mengetahui apa
yang terjadi dengan pemberitaan. Entahlah,
apa karena malas atau memang dikondisikan seperti itu oleh lembaga.
Harapan di tahun 2015 masih ada dan harus dijadikan patokan bagi perbaikan kinerja pendiseminasian hasil-hasil penelitian ke arah yang lebih baik...Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar